Petani menderita, Bentuk Pemerintah Tak Punya Wibawa

Ditulis : AM Jumai

Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu ( FKSB) Kota semarang

Pengamatan dan peninjauan kami di lapangan khususnya daerah persawahan di semarang dan sekitarnya terhadap penggarapan sawah untuk penanaman padi, masyarakat sudah mulai enggan karena : pupuk langka dan jika tersedia harganya mahal, tenaga mahal, bibit mahal serta biaya operasional mahal sedangkan saat panen harga gabah dan beras sangat rendah. Maka dari keadaan yang ada masyarakat/petani menggarap sawah seadanya hanya untuk menyambung hidup saja.

Baca Juga  Penemuan Arca Jawa Kuno Ketika Bangun Rumah di Bandungan

Adanya pihak yang memainkan terkait ketersediaan pupuk dan merusak harga hasil panen tersebut secara masif dan sistemik dan ironisnya tidak ada aparat atau pemerintah yang memberikan perhatian serius persoalan nasib petani tersebut .

Sebagai bentuk tanggungjawab dan perhatian kepada masyarakat/petani maka pemerintah harus mekakukam jaminan atas ketersediaan pupuk dan tidak mahal syukur ada subsidi yang adil dari pemerintah, pengendalian harga yang stabil dan berpihak kepada petani, lakukan operasi yustisia terhadap pengacau dan spekulan-spekulan nakal.
Perlu adanya penguatan sistem koreksi antar dinas dan juga sambungan komunikasi lancar dan sinkron antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah

Baca Juga  Hiruk-Pikuk Covid-19, Pembatasan Berujung Peniadaan Kegiatan Masyarakat

Komitmen bersama mewujudkan berswasembada pangan dan berdaulat akan pangan, serta harga beras harus dikuasai oleh negara.

Red/SLH

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *